-->

Kamis, 22 April 2021

Bagaimana Mendampingi Anak Transgender

 

"team-support.jpg"

 Transgender dan Keluarga

Transgender sangat memerlukan keluarga, lebih dari anak - anak lain. Transgender yang mengikuti konseling  bersama dr.Renata dan Dr. Errol menyatakan, mereka akan kuat menghadapi segala cobaan, asalkan keluarga  menerima mereka. 

Sebelum melanjutkan obrolan, aku mau kasih tahu yang belum baca bagian pertama, biar gak gagal paham silakan mampir dulu ke sana

Cinta Tanpa Syarat

Dr.Renata menjelaskan, orangtua dan keluarga, adalah benteng bagi anak. Riset membuktikan remaja LGBT, yang mendapat support keluarga mempunyai kemungkinan lebih besar, untuk menjadi orang dewasa, yang bahagia,sukses dan sehat secara mental.

Kerjasama Antar Keluarga

Bukanya mau sok – sok baek atau gimana, tapi kamu pernah ngebayangin, bagaimana hidup kawan – kawan  transgender? 

Nyaris seumur hidup mereka, ditolak,dilecehkan,dibully,bahkan dikriminalisasi.

Kalau mereka bisa memilih,mereka juga enggak mau jadi transgender - Reggy Lawalata

Idealnya setiap orangtua,dengan anak transgendar menjadikan  rumah, sebagai tempat perlindungan paling aman.

Seperti yang dr Renata bilang,dukungan keluarga adalah, sumber semangat hidup mereka.

Ajaklah anggota keluarga, yang tinggal satu rumah  menjadi bagian dari team sukses.Kita tidak perlu sok jadi, dokter ,atau psykolog,atau ahli prilaku transgender. Yang mereka perlukan, hanya perlakuan yang sewajarnya.

Support  Untuk Transgender

Untuk menunjukan kamu peduli,Dr Errol menyarankan  bentuk dukungan berupa:

  • Hindari kata – kata,dengan konotasi mengejek. Misal memberi nickname bencong, banci, kaleng dan sejenisnya.

  • Jangan pula menyindir,perbedaan dan keterbatasan mereka.

  • Berikan mereka kesempatan yang sama, seperti adik atau kakaknya yang ‘normal’

  • Hargai usaha mereka dan bantu  mengembangkan bakat, yang mereka miliki. Transgender yang mandiri secara finansial, akan lebih dihargai masyarakat.

  • Berikan pembelaan dan perlindungan, saat  mereka minta ataupun tidak.

Reggy dan Mario Lawalata, adalah contoh baik keluarga yang full support.  Mereka berperan besar mendukung  Oscar, untuk mandiri dan percaya diri.

Reggy  sebagai ibu tidak menyerah begitu saja, pada stigma negatif transgender. Ia mengarahkan,mengakomodir,dan mengiringi,setiap keputusan yang diambil Oscar. Mario sebagai adik, yang notabene adalah lelaki normal, selalu berusaha  menguatkan, memberi semangat,dan melakukan pembelaan.

Indikasi  Sudah Terjadi  Bullying 

Transgender diseluruh dunia, adalah  sasaran bullying. Ada saja yang bisa, dijadikan olok – olok dari mereka. Bullying  dengan kata – kata, kontak fisik seperti pukulan, atau pelecehan, yang ditujukan secara sengaja, untuk menyakiti fisik dan mental.

Dr Errol dan dr Renata,merangkum hal – hal, yang dapat dijadikan petunjuk, bahwa anak sudah mengalami bullying.

  • Perubahan Prilaku

Misalnya Buyung yang selalu ceria, jadi murung dan males keluar rumah. Jadi lebih sensi,mudah marah.

  • Masalah disiplin dan Tingkah laku

Tiba- tiba dapet surat, atau dijapri bu guru. Buyung marah dan menonjok muka temanya.Mungkin itu tindakan bela diri, karena ejekan temannya sudah keterlaluan.

  • Prestasi Menurun Dan Bolos Sekolah

Jadi males belajar, males berangkat les, bahkan bolos sekolah. Jangan buru – buru marah, coba cari informasi. Ada  kejadian apa disekolah,yang bikin buyung trauma.

  • Menghindar dari temana atau tempat tertentu

Perhatikan  kalau mereka, seperti sengaja menjauh dari seseorang atau tempat tertentu. Sudah terjadi sesuatu, yang membuatnya merasa tidak nyaman .

"bullying.jpg"
Kumpulkan   informasi dan bukti perundungan

Curiga ada yang tidak beres, segera  tanya. Dengarkan penjelasan,  jangan tunjukan emosi yang berlebihan.  Beri support dengan pelukan , dan  kata – kata yang menenangkan.

Dokumentasikan  bila  menemukan, tanda kekerasan di badan. Komen – komen  tak berahlak di media sosial, juga termasuk kategori perundungan.

  •  Hubungi Guru

 Pada Lizia Djaprie . Psikolog Klinis  ( kanal  youtube  Orami)  Oscar  bercerita,  tentang  bullying  yang diterimanya di sekolah.

 Hari – hari pertama  naik kelas, atau pindah sekolah, adalah moment paling menegangkan. Ia cemas memikirkan  reaksi  orang,  yang baru dikenalnya. Oscar mengaku pernah berantem di sekolah. Anak yang lembut ini terbakar emosi, karena   perundungan  yang sudah sangat keterlaluan.

Begitu mendapat bukti, adanya perundungan. Jangan  pula ujuk - ujuk datang, dan marah - marah di sekolah. Sebagai orangtua, kita juga pernah  sekolah. Dari pengalaman  kita belajar, kadang  wali murid juga guru sering  lebay.

Masalah yang bisa diselesaikan dalam senyap, malah jadi heboh dan melebar kemana - mana. Sadar atau tidak ini  berakibat buruk, pada mental dan kehidupan sosial anak.

Saat datang  untuk mengadukan perundungan, idealnya sudah  ada bukti. Alat bukti, akan memudahkan guru bertindak. Ingatkan pihak sekolah, untuk bertindak sewajarnya.  Alih- alih menyelesaikan masalah, pengerundungan  malah makin menjadi.

Pada tahap ini, peran orang dewasa ( orangtua, keluarga dekat,guru) akan sangat vital. Respon kita akan  memberi dampak, jangka panjang pada mereka.  Bisa jadi lebih baik atau malah lebih buruk.

Siapkan  Mental Baja

Rela tak rela  bullying,  akan  terus  terulang  seumur hidup.  Anak  harus   bisa menjaga dirinya, saat di luar jangkauan orangtua. Secara bertahap, mulai menyiapkan mental mereka.

  • Katakan dengan  jujur, kalau mereka berbeda. Perbedaan yang  selalu, akan jadi  kontroversi. Cari moment yang pas, untuk berbincang soal  ini.

  • Belajar bersikap masa bodoh.Tidak semua ejakan, perlu ditanggapi.Tapi sesekali, perlu  melakukan perlawanan  keras, untuk membuat kapok para perundung. Support mereka, untuk ikut kelas bela diri.

  • Ingatkan mereka  untuk  mewaspadai orang – orang, yang mungkin  berniat mengambil keuntungan dari kondisi mereka.

Saling Menghargai

Menerima mereka  apa adanya, bukan berarti mereka bisa bertindak semau gue. 

 Oscar  bilang, tanpa  berdandan aneh – aneh  saja,  transgender  sudah menarik perhatian orang. Tingkah polah yang  lebay, akan memancing  reaksi negatif dari lingkungan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, tata krama dan sopan – santun, tidak mengenal jenis kelamin.Tegaskan batasan – batasan, yang keluarga  inginkan.

Beri masukan, kapan dan dimana tempatyang aman  mengekspresikan diri. Buat kesepakatan, dikesempatan apa mereka harus menahan diri.

Jangan lupa berdoa

Jangan  jadikan  doktrin surga-neraka,untuk menakuti mereka. Dari pada berdebat soal pandangan agama  tentang transgender, lebih baik percaya semua bisa  terjadi, atas kehendak Tuhan. Tuhan juga mendengar doa transgender. Ajarkan dan ingatkan, untuk berdoa minta perlindungan,dan petunjuk  kepada Tuhan.

"oscarlawalata.jpg"

Pengalaman  Reggy  membesarkan Oscar, tidak semudah membalik telapak tangan. Ada masa penuh emosi dan air mata. Tapi apapun yang terjadi, jangan tinggalkan mereka. Dampingi mereka untuk  maju, berani dan kuat melewati semua rintangan.

Dokter Renata Sanders berpesan, perlu waktu, pengetahuan, dan kerendahan hati, orangtua  untuk membesarkan anak transgender. ***donasaurus.com

Rabu, 21 April 2021

Belajar Transgender Parenting dari Reggy Lawalata

donasaurus
Dulu, seorang reporter infotaimen, meminta pendapat Reggy  Lawalata tentang Oscar yang berpenampilan berbeda.

Dengan  tegas  (dan agak keras )  menyatakan, dia  tidak ……sama sekali tidak menyesali ….. anak lelakinya, Oscar Lawalata  tumbuh menjadi  begitu feminim.

Dan.......dipenghujung  2020, media ramai memberitakan, Oscar  Lawalata memperkenalkan   nama  barunya - Asha Smara Darra.

Tidak ada  konfirmasi, tentang ganti kelamin. Hanya secara tersirat Mama Reggy mengkonfirmasi,  Oscar  telah menjadi  perempuan.

Keberanian  Reggy  dan Oscar, untuk bercerita di  kanal The Lawalatas – Untold Story (upload-  Agustus 2000), patut diacungi  jempol. 

Kamu yang pro, atau kontra,  atau  aku yang  enggak  tahu,mesti bilang apa soal LGBT. Kita belajar bersama, tentang  transgender, dari  pengalaman  mereka.

Sebab peingkaran atas  eksistensi mereka di kemudian hari, akan jadi masalah personal dan sosial, bagi seluruh masyarakat.

Transgender Karena Faktor Biologis

Salut, beneran   salut  sama Mama Reggy. Dengan segala keterbatasan, perempuan ini selalu  all out  mendukung   anak. 

Kita belajar dari Mama Reggy,  bagaimana bersikap  bodo amat ama omongan  orang. Energinya fokus pada, bagaimana membesarkan anak transgender,  yang bahagia dan sukses.

Difinisi  transgender  :Transgender merujuk pada orang-orang, yang identitas gendernya berbeda, dengan alat kelamin, yang mereka dapatkan saat lahir. Identitas gender, adalah perasaan internal dan pribadi seseorang, tentang menjadi pria atau wanita. Hal ini meliputi perilaku, ekspresi,dan segala hal yang menyangkut identitas seseorang.

Mendengar  cerita perjuangan  keluarga Lawalata, aku jadi tertarik untuk tahu lebih banyak, tentang  transgender. Mencari jawaban kenapa  kita, sering gagal paham tentang mereka.

Setelah  brozing sana - sini, aku ngumpulin banyak info menarik, seputar parenting transgender. Salah satunya berjudul Tips for Parent of  LGBT  Youth. Ditulis  Dr. Renata Arrington  dan Dr. Errol Field , di laman  hopkinsmedicine.org. Karena lumayan panjang, aku bagi menjadi dua artikel.

Menurut  dr Renata dan dr.Errol, sangat jarang ( hampir mustahil), anak pra remaja  dan remaja mengakui, kalau mereka merasa berbeda.

Seperti pengalaman  Reggy, yang  galau melihat Oscar terlihat  beda. Anak sulung itu, lebih kemayu, dari  adiknya - Mario.  Dalam kegalauannya Reggy,  sempat melakukan berbagai cara,untuk  ‘meluruskan’ Oscar.

Bertahun – tahun  mengingkari dan mencoba, mengubah Oscar  jadi lelaki sejati. Semua zhonk, Oscar  tidak  berubah sedikitpun.

Dalam kesal dan kecewa, Reggy  sempat marah besar . Perang dingin, yang berujung  tangis – tangisan. Reggy  tak kuasa menahan air mata, waktu  Oscar bertanya, Mama kenapa  aku berbeda?  

Pertanyaan  yang tidak mudah dijawab, oleh orangtua manapun.

Ada banyak teori mengenai, bagaimana  terjadinya transgender. Kali ini  kita ngobrolin  transgender, karena  faktor  biologis. Biar jelas , aku  kutip sedikit  artikel  dari laman Halodoc.com, soal  kromsom Y dan X.   

Lelaki normal hanya memiliki  satu kromosom  X  dan satu  kromsom Y. Nah  pada kasus  transgender, mereka  terlahir  sebagai  lelaki, tapi memiliki  dua kromsom X.

Kondisi  genetik menyebabkan seseorang secara  jasmani  lelaki, tetapi secara rohani  ia merasa  dirinya perempuan.  Analogi yang sering digunakan, adalah mereka   perempuan yang  terjebak dalam tubuh laki – laki.

donasaurus.com
Pemeriksaan kromsome dapat dilakukan, untuk memastikan gejala yang terlihat

Menyadari Anak Lelaki Yang Feminim

Orang tua dan keluarga  sering,  jadi yang  paling akhir ‘sadar’,  bahwa  ada bibit transgender,  dalam lingkaran mereka.

Bisa jadi , lantaran  tinggal serumah, membuat keluarga  kurang  peka. Baru ribut,setelah ada  kejadian, yang  bikin heboh.

Sebagai  awam,  kita  tidak punya pengetahuan, untuk  memahami pertanda awal, bahwa mereka  berbeda. Pengalaman Reggy  yang masih  belum sadar, bahkan setelah mendapat  kode keras dari Oscar.

Seperti  Oscar Lawalata, yang  mempertanyakan jati dirinya.  Waktu kecil mereka,  yang  kelebihan  kromsom X , juga belum  tahu  apa, yang terjadi pada dirinya.

Aku  masih ingat  3 kawan lelaki , yang  terlihat kemayu  sejak sekolah dasar. Yup,mereka terlihat lebih nyaman bermain, bersama  kawan perempuan.

Gesture dan  tutur katanya, cewek banget. Parahnya, mereka  sudah  bergelar  bencong, sebelum hatam SD.

  • Dengarkan  Cerita Mereka

Sama seperti tips parenting lainya, komunikasi menjadi kunci. Orangtua disarankan, untuk membagun komunikasi, yang sehat dengan anak sejak kecil.

Dimulai dengan pertanyaan sederhana, misal :

Tadi main apa?

Tadi main sama siapa?

Di sekolah tadi belajar apa?

Di sekolah  lagi musim mainan apa?

Aktif bertanya, tapi jadilah pendengar yang baik. Dengarkan dengan seksama, jawaban mereka. Karena bisa jadi petunjuk, ke arah yang luar biasa.

  • Memahami Situasi dan Kondisi Real Time

Ada Ayah yang emosi,liat ucok  main boneka. Ada juga Mamak yang jadi galau, ngeliat Buyung lebih seneng main,sama anak perempuan.

Wait, kalau ada tanda – tanda yang tidak biasa,jangan buru – buru panik. Perhatikan sebenarnya, apa yang sudah terjadi. 

donasaurus.com

Bisa saja,setelah diperhatikan,sama sekali enggak ada hubunganya, dengan soal transgender.

Boneka adalah satu – satunya mainan, yang Ucok punya. Coba kalau ada mobil atau robot – robotan, dia akan meninggalkan bonekanya.

Haduh,ternyata  temen-temen Buyung, yang lelaki pada nakal dan sering memukul.Pantesan,Buyung enggak suka, main sama mereka.

Jikalau itu dan ini sudah dicoba,tapi prilaku mereka semakin berbeda gimana dong?

Dokter Renata mengerti,banyak orangtua yang salahpaham, tentang transgender dan orientasi seksual.Setelah menyadari,kemungkinan ada transgender dalam keluarga. Baiknya ayah dan ibu, melakukan konsolidasi.

Dari pengalamanya memberikan konseling bagi orang tua, dan anak transgender,dr Renata membuat panduan. 

Memulai Transgender Parenting

  • Terima kenyataan,ini bukan sementara. Mereka akan selalu jadi berbeda, sepanjang hidupnya.
  • Transgender(karena faktor biologis) bukan penyakit. Karena sudah dari’sononya’tidak ada,yang perlu diobati.
  • Stop,mencari – cari siapa yang salah.Terimalah mereka,apa adanya.

Hei masih banyak tips, yang penting untuk orangtua transgeder.Seperti bagaimana mencegah dan menghadapi, perundungan pada  remaja transgender. Kita lanjutin obrolan di bagian ke dua artikel ini ***donasaurus.com

Connect