Minggu, 21 Oktober 2018

Pengalaman menjaga Alzheimer dan Demensia.



Sejak  iparku  terindikasi menglamai Alzheimer dan atau  Demensia ( ada pendapat mengatakan  keduanya berbeda jadi harus disebut satu –satu ) kakakku mulai pusing. Hal-hal  sepele, tapi lumayan menyebalkan sering kali bikin suasana rumah mereka jadi meriah dengan teriakan.

Diriku pengen bantu, atau kasih saran tapi gak ngerti mau ngomong apa.
Akhirnya,  surfing sana-sini ( lebih banyak dari situs-situs perawatan lansia luar negeri ) untuk mendapat info  soal gejala Alzheimer dan atau  Demensia.  Saking seriusnya,  udah ndaftar sebagai relawan ( belum dikonfirmasi) pada komunitas Alzheimer Indonesia.

Apa gunanya ?
Untuk mengatur  strategi dalam menjaga  orang tua dengan gejala Alzheimer dan atau  Demensia.  What Strategiiiii?
 .......gak ketinggian cin ngomongnya.

Yang sudah pernah berurusan, dengan Alzheimer dan Demensia pasti tahu kalau strategi  atau perencanaan penting banget untuk kemaslahatan yang tua dan yang muda.

Artikel tentang Alzheimer kemarin, mendapat komen baik di blog maupun media sosial ku. Ada yang bilang penjelasanku terlalu dangkal, dan langsung bilang  website yang jadi refrensiku soal Alzheimer dan atau  Demensia itu abal-abal.

Ginih loh bro, artikel ini dibuat bukan dalam kapasitas saya sebagai dokter jiwa. Tapi lebih kepada sharing pengalaman hidup. Dan buktinya, beberapa komen bercerita orang terdekat mereka mengalami   gejala yang sama.
Kalau memang merasa punya kapasitas, pengalaman, atau pengetahuan lebih dalam soal gejala ini, silakan buat tulisan dan boleh titip link dilapak ini.
Diriku hanya fokus , bagaimana berbagi strategi yang memudahkan hidup caretaker dengan tidak mengabaikan  keselamatan  orang-orang tua kita.

Berikut beberapa strategi dari pengalaman  caretaker ( penjaga) Alzheimer dan  atau Demensia dalam menjaga orang tua mereka.

1. Kartu  Identitas
Mereka, dapat menjadi sangat pelupa. Karena itu catatlah nomor telepon  keluarga (sebaiknya  beberapa nomor ) dan alamat rumah.
 Catat dalam semacam kartu/ kertas tebal dan masukan dalam tas/dompet  yang sering di bawa penderita.
Bila kondisi  sudah tidak memungkinkan,belilah semacam  kantong ID  card yang dapat di kalungkan dileher penderita.
 Ya, kalau  gak enak liatnya mungkin bisa disembunyikan di balik baju . Bisa juga cari ID  card kecil dengan peniti yang di pasang di bagian dalam baju.
Tujuanya,bila nenek-kakek  tersesat mereka, dapat meminta bantuan dari orang yang ditemui dengan menunjukan kartu tersebut.  

2. Jangan Memaksa
Jangan memaksa mereka untuk mengingat, atau melakukan suatu hal dengan cepat dan benar. Kondisi mereka, sudah tidak mungkin lagi.  Pemaksaan  justru dapat membuat mereka  semakin tertekan dan cemas hingga memperburuk keadaa. 
Ada cerita tentang nenek,jadi suka "ngompol" karena diomelin terus sama cucunya.

3. Komunikasi dan kerjasama dalam keluarga
Berilah pengertian kepada anggota keluarga yang lain , terutama anak-anak dan remaja mengenai kondisi kakek/nenek mereka .
 Anak kecil dan remaja, biasanya kurang peka karena tidak mengerti apa yang dialami nenek-kakek.
Ajak  pasien ngobrol,sesering mungkin  bercerita mengenai pengalaman hari ini, atau cerita-cerita nostalgia  yang lucu dan bahagia . Hal ini,  membantu kakek-nenek  untuk memusatkan perhatiannya. Hindari topik yang membuat mereka merasa sedih,marah atau mengungkit trauma masa lalu.

4. Malam Hari - sebelum tidur
Perilaku mereka,  biasanya memburuk di malam hari. Merasa  asing , sendiri dan bingung. Bila memungkinkan, jangan membiarkan orangtua  tidur sendirian.

5. Perhatikan Keamanan  Rumah dan Lingkungan Sekitar
Bila sudah mendapat kepastian,melalui pemeriksaan dokter bahwa anggota keluarga kita positif Alzheimer / Demensia dapat  informasikan pada Pak RT,pada petugas keamanan kompleks,tetangga terdekat kiri kanan atau depan rumah .
Tujuanya, bila mereka terlihat keluar rumah sendiri  atau berprilaku tidak wajar dapat segera mengabari anggota keluarganya.

6. Tetap Aktif di Siang Hari
Ajaklah  mereka  untuk berjalan-jalan sebentar, di pagi hari.  Selain untuk berolahraga , juga mengurangi timbulnya gejala wandering.

Wandering - keadaan di mana penderita tiba-tiba berjalan sendiri tanpa arah dan tujuan yang jelas. 

7.Dampingi mereka dalam menyelesaikan urusan hukum dan keuangan.
Misal mengurus asuransi atau  masalah harta benda. Jangan sampai kondisi mereka,dimanfaatkan  pihak tertentu untuk mengambil keuntungan.
Ada juga cerita, Ayah mereka diakalin temenya untuk membeli tanah yang gak jelas statusnya.

8. BERSABAR 
Tentu tidak mudah, apalagi kalau kita juga punya kesibukan yang menyita waktu . Kerjasama,dalam keluarga sangat penting. 
Mengingat begitu banyak hal yang harus disesuaikan dengan kebutuhan dan waktu orangtua. Bisa mulai dibicarakan, tentang pembangian waktu jaga ( terkesan serem tapi memang begitulah kenyataanya) dan sebagainya.

Sementara ini, hanya sebegitu yang bisa dibagi, kalau yang lain punya pengalaman, atau  tips menjaga mereka silakan berbagi di komen. Ok  thank you for coming.

18 komentar:

Rohyati Sofjan mengatakan...

Saya pernah nonton cfilm Korea berjudul "A Moment to Remember" indah sekaligus menyedihkan. Ya, demensia memang buruk akibatnya bagi diri sendiri dan anggota keluarga lain. Seakan ada penghapus di kepalaku.
Salam kenal, Mbak. :)

donasaurus mengatakan...

Benar Rohyati,karena keluarga kurang faham gejala Demensia.Tidak ada gambaran strategi yang akan digunakan untuk membantu orang tua atau saudara dengan kondisi tersebut.Semoga semakin banyak yang sadar dan bisa menemukan strategi menjaga orangtua dengan gejala Alzheimer dan Demensia.Thanks sudah mampir

Tira Soekardi mengatakan...

makasih sharingnya

donasaurus mengatakan...

You welcame Tira

Sabda Awal's Blog mengatakan...

semoga orangtua saya tidak mengalami dimensia atau alzhemimer mbak, mengingat kondisi beliau sudah renta.

Terimakasih sharingnya, paling tidak ini meberikan pengetahuan awal bagaimana mengatasi penderita seperti mereka, seorang caretaker

Dirga mengatakan...

nice post.. tulisannya bagus,rapi dan mudah dipahami.

jadi tambah wawasan saya,thanks

donasaurus mengatakan...

Thanks sudah mampir,semoga Orangtua bro Sabda selalu sehat.

donasaurus mengatakan...

Semoga bermanfaat thanks sudah mampir Dirga

Lasma Manullang mengatakan...

Tiap bayangin yang ngalamin alzheimer dan demensia ini, hati luluh dah. Jadi inget almarhum nenek yang kadang udah lupa naro ini itu, udah makan atau belum. Orang yang ga ngerti kadang jadi salah paham.

donasaurus mengatakan...

Bener itu,kadang yang sehat suka terpancing emosi.Perlu bener kerjasama dalam merawat mereka.Thanks sudah mampir Lasma

NininMenulis mengatakan...

Terima Kasih sharingnya n Salam kenal mba

donasaurus mengatakan...

Terimakasih sudah mampir salam kembali Ninin

Diah Dwi Arti mengatakan...

Ada tetangga saya yang sudah sepuh, tinggal sendiri karena suaminya sudah meninggal. Anak tidak punya. Sering ngajak ngobrol kalau pas ketemu saya tapi besoknya tanya lagi hal yang sama.

Terus beberapa kali beliau kedapatan nunggu bank buka (rumah dekat bank) malam hari. Ketika ditanya, "Mau ambil uang." Dikiranya itu pagi hari, subuh,gitu.

Itu termasuk demensia plus wandering kah, mbak?

Alhamdulillaah sekarang beliau udah pindah, dirawat saudaranya.

Lidha mengatakan...

ehmmm... ada orangtua terdekat kami yang juga udah pelupa mbak. Yang saya khawatirkan orang sekitar bisa kesal dengan dia karena sering mengulang-ulang sesuatu. Semoga beliau tetap sehat2 walafiat

nur rochma mengatakan...

Bapakku sudah mulai pelupa. Tapi tidak berat dan masih bisa dipahami. Mungkin karena usia juga. TFS ya mbak.

donasaurus mengatakan...

Kalo denger critanya sih iya demensia.Tapi untuk lebih pasti sudah ada testnya.Sukurlah kalau beliau sdh ada yg jaga, kasihan juga kalau sendirian bisa ngelayap jauh terus nyasar.Thanks sudah mampir Diah

donasaurus mengatakan...

Memang itu suka jadi biang keributan.Itu tadi emang perlu pengertian dari orang yang tinggal satu rumah.Kalau kita terbawa emosi yang tua bisa stress.thanks sudah mampir lidha

donasaurus mengatakan...

Salam untuk bapaknya,semoga bapaknya Nur sehat terus.thanks sdh mampir