Kamis, 27 Desember 2018

Tips Liburan Aman Bareng Anak



HARI Minggu (23/12)  lalu,diriku ada keperluan ke Indralaya.Perjalanan singkat saja,kalau lancar bisa ditempuh kurang dari 2 jam dari kota Palembang. Mengingat menimbang soal kemungkinan,macet dan banjir diriku memutuskan naik bus umum saja.
Ruang tunggu pol bus, sudah penuh.Ini masa libur sekolah,anak-anak dari 0-10 tahun terlihat mendominasi ruangan.Sambil duduk (tidak begitu manis), menyaksikan beberapa drama orangtua dan anak-anak.
Keributan kakak dan adik,didamaikan dengan masing-masing dapat satu cup es Oyen. Baby X  yang umurnya sekitar 9 bulanan,nangis dari tadi.Mungkin bosen, atau tergangu dengan asap rokok, atau kepanasan berhasil disogok diam. Mama- papa bergantian berulang-ulang, memungut botol kosong yang dilempar  baby X ke lantai. Sambil melirik padaku, mama baby x bilang ‘asal dia diam‘. Beberapa anak,gak banyak tingkah karena ada gawai di tangan mereka.

Drama anak ini, sering tayang di musim liburan sekolah. Waktu yang sering dipilih untuk melakukan, perjalanan sekeluarga.Gak peduli di pol bus, stasiun kereta,sampai bandara internasional. Hotel dan restoran juga, tak ketinggalan jadi ajang unjuk kebolehan.
Diriku jadi tertarik, mengamati reaksi para orangtua terhadap anak yang misbehaves di ruang publik. Bayi dan balita,mungkin gak bisa dinilai  karena belum mengerti komando. Yang suka bikin sirik itu,anak-anak umur  6+, yang sewajarnya sudah bisa diajak kordinasi

Dari hasil larak-lirik di ruang tunggu, diriku membagi orangtua dalam tiga kelompok.
Kelompok pertama - Gawai  is the best
Ini tipikal mamah dan papah muda zaman now. Dari rumah,anak sudah di bekali gawai. Mereka jadi kehilangan minat,melakukan eksplorasi lingkungan.
Kelompok kedua - Money talk
Biasanya dimulai dengan omelan plus  keluhan, anak yang bandel atau  minta duit terus. Akhirnya buka juga  dompet. Menyuruh anak jajan, untuk membuat mereka tenang.Yang ini model-model emak – bapak tahun 80-90an.

pixabay

Kelompok ketiga - Emang gue pikirin
Saat anak mulai melakukan hal-hal yang mengangu  keamanan, ketertiban dan kebersihan lingkungan. Orang tua EGP ini,suka pura-pura tidak tahu.Tidak mencegah apalagi membantu, mengatasi masalah yang disebabkan anak mereka.Kadang malah balas menghardik, orang yang menegur anaknya.

Dalam musim libur,ketiga kelompok orangtua itu bisa kita temukan bersamaan dalam satu lokasi. Penasaran gak sih, kenapa reaksi orangtua bisa begitu berbeda terhadap aksi anak.
Reaksi-reaksi atas tingkah anak, keliatanya untuk menutupi rasa malu.Pandangan masyarakat, biasanya menyalahkan orangtua untuk kelakuan anak yang tidak patut.

Meskipun terlihat sok gak peduli gitu,hakul yakin dalam hati emak-bapak itu terbersit rasa malu. Lalu mulailah muncul berbagai dalih, ah namanya juga anak-anak atau kan ada petugas kebersihan de el el. Semakin besar usia anak, semakin susah dikoreksi karena semua kesalahan dibenarkan orangtua
pixabay

Mengutip  Judith Myers-Walls, PhD, profesor perkembangan anak dan studi keluarga University Lafayette – Indiana USA,orangtua idealnya mulai mengajarka soal prilaku pada anak itu sejak bayi. Memberi batasan, hal yang boleh dan tidak. Mencontohkan,prilaku baik. Mencegah dan mengingatkan,bila anak mulai berprilaku tidak pantas. Tentu saja disesuiakan, dengan  fase perkembangan anak.

Nancy S.Buck,Ph.D,RN seorang psikolog perkembangan yang berpengalaman dalam motivasi dan prilaku anak pada laman psychology today.com memberi beberapa tips DO and DON’T meminimalisir drama anak di muka umum.

1.Menetapkan aturan.
Beberapa hari sebelum berangkat, buatlah kesepekatan bersama.Kesepakatan  yang harus dipatuhi, semua anggota keluarga. Yang simpel-simpel saja, ini MOU untuk  mengajar anak membedakan rasa ingin tahu VS  mengangu ketertiban. Bukan tata tertib karyawan, instalasi militer.

❤ Bagaimana menjaga, kebersihan diri dan lingkungan
❤ Jaga bicara
❤ Tidak menaiki atau bermain-main dengan alat-alat  kerja petugas.
❤ Tidak mengangu pengujung dan petugas disana

Kesepakatan dapat disesuaikan dengan, sikon tempat yang akan dikujungi.Kalau liburan ke pantai, sepakati sejauh mana anak boleh berenang. Kesepakatan, bisa juga berdasarkan pengalaman liburan bersama  sebelumnya. Jangan ulangi pernak-pernik kecil yang bikin, tensi mama-papa naik tahun lalu.
pixabay
2.Rencana
Ngobrol-ngobrol dulu,tentang tempat yang akan dikunjungi. Mungkin ini pertama kali mereka, ke stasiun kereta atau bandara.Ceritakan, apa saja yang akan dilakukan setiba disana.Merencanakan apa yang bisa, dilakukan disana. Misalnya saat papa-mama lagi ngantri check in. Mereka bisa duduk manis,sambil  membuat video pendek aktivitas bandara atau duduk manis mewarnai gambar. Tentu saja semua aktivitas tidak mengangu, atau merusak fasilitas umum.Jangan lupa untuk mengingatkan lagi,kesepakatan dan rencana yang sudah dibuat ini dalam perjalanan menuju ke sana.
pixabay
Diriku berbagi pengalaman,dulu pernah delay beberapa jam di bandara Soekarno Hatta – Jakarta. Lama menunggu, ananda mulai rewel. Akupun mulai bosan,dengan janji palsu jam berangkat yang molor.Iseng mengajak ananda, keliling ruang tunggu. Tour ruang tunggu, berbagai maskapai.

Duduk sebentar,bersama penumpang dari  Indonesia timur.Mendengar logat mereka bicara, megamati ciri fisik berbagai suku bangsa Indonesia. Diluar dugaan, ternyata mengasikan untuk anak umur 8 tahun. Ananda saat itu, banyak senyam-senyum sendiri. Pertama kali bertemu langsung,dengan orang Papua yang dia bilang mirip mirip Afro.

Bagaimana kalau tidak ada hal menarik yang bisa dilakukannya di sana ?

 3.Minta pendapat anak
Selama  liburan, ada beberapa hal yang bikin  anak lepas kontrol.Bosan,lelah,lapar atau tidak tertarik dengan obyek kunjungan yang dipilih orangtua.
Hindari drama dengan menanyakan,kemana mereka ingin menghabiskan liburan.Biarkan mereka mengemukakan alasan,mengapa ke sana. Apa yang membuatnya tertarik ke sana.
Jangan langsung memutuskan,pikirkan lagi pendapatnya.

Kalaupun nanti dirimu,punya keputusan berbeda. Kemukakan alasan, yang bisa diterima akal anak. Disertai alternatif aktivitas, yang bisa dilakukan.
Seorang teman mengeluhkan anaknya, tidak mau diajak liburan ke rumah nenek. Alasanya di sana tidak ada, sinyal Smartfren.Sehingga ia tidak bisa bertukar cerita,dengan temannya yang liburan di kota lain.
pixabay
Pelanggaran dan Peringatan

Suasana dan keramaian, kadang membuat anak lupa aturan main.Bawa anak menjauh, dari TKP. Beberapa anak,biasanya jadi tambah bertingkah kalau diomelin di depan orang.
Tanyakan apakah dia merasa lapar,sedikit pusing atau cuma bosan saja. Ingatkan peraturan dan rencana, yang dibuat bersama.Alihkan perhatian,dengan mengajaknya melakukan hal lain.

Budi pekerti
Aih  kalo pake istilah budi pekerti, kok rasanya  dalemmm banget.Tapi gitu deh,anak tidak tiba-tiba saja jadi pecicilan. Mudah sekali mengakui kalau anak sopan dan  berprestasi, adalah jerih payah orangtua mendidik mereka.Bagaimana kalau sebaliknya? Inilah mak,romantika jadi orangtua.

Kita masih percaya bahwa tingkah anak itu, refleksi lingkungan. Ada andil sekolah, teman sepermainan dan tentu saja keluarga dalam pembentukan karakter anak.
Zaman sekarang, banyak anak yang menghabiskan waktu lebih lama di sekolah dibanding bersama keluarga di rumah.Ibarat  mengirim baju ke loundry.

Tiba di rumah,sudah disetrika rapi. Bersih,bebas noda dan wangi.Tidak terlalu peduli, cairan kimia yang digunakan atau bagaimana proses cuci-kering dilakukan. Jeeeng....jeeeng tau-tau anak sudah punya value sendiri. Yang mungkin beda banget, dari apa yang biasa mama-papa terapkan  di rumah.
Perjalanan liburan keluarga, saat yang tepat untuk mengevaluasi pola asuh yang sudah dan sedang berjalan. Bagian mana yang kita masih minus,apakah soal sopan satun,kebersihan,atau disiplin. Cari inspirasi,perhatikan lingkungan.Bagaimana reaksi orangtua lain, pada anak mereka dalam sikon tertentu.
Hoke,selamat berlibur.Punya pengalaman menarik soal drama anak-ortu selama liburan.Cerita-cerita dikomen dong***donasaurus

2 komentar:

riawani elyta mengatakan...

kadang terjadi hal gak terduga ya saat liburan...pingin hepi malah drama

donasaurus mengatakan...

Iyo bener banget,liburan bareng keluarga itu bisa sukses banget atau ancur banget.Thanks sdh mampir riawani