Jumat, 28 Desember 2018

Tips Liburan Aman Bareng Anak


Harus diberi rambu mana tindakan wajar dan mana yang nakal.Pic- Sasint

HARI Minggu (23/12)  lalu,diriku ada keperluan ke Indralaya. Perjalanan singkat saja,kalau lancar bisa ditempuh kurang dari 2 jam dari kota Palembang. 

Mengingat menimbang soal kemungkinan macet dan banjir, diriku memutuskan naik bus umum saja.

Ruang tunggu pol bus, sudah penuh.Ini masa libur sekolah,anak-anak dari 0-10 tahun terlihat mendominasi ruangan.

Sambil duduk (tidak begitu ) manis, menyaksikan beberapa drama orangtua dan anak-anak.

Dua anak lelaki saling pukul, mereka tidak sepakat tentang sesuatu. Nenek yang pusing melihat ulah mereka, langsung buka dompet.  Keributan kakak dan adik didamaikan,masing-masing dapat satu cup es Oyen.

Baby X  yang umurnya sekitar 9 bulanan menangis. Mungkin bosen, atau tergangu dengan asap rokok, atau kepanasan.
Mama- papa  baby X , punya cara aneh untuk mendiamkan anaknya.

Sambil melirik padaku, mama baby x bilang ‘asal dia diam‘.

Bergantian mereka  memungut botol kosong, yang dilempar  baby X berulang-ulang  ke lantai.  

Di kursi lain beberapa anak, duduk diam gak banyak tingkah. Kulihat ada gawai di tangan mereka.

Sekarang keliatanya gawai sudah jadi, alat bantu mengasuh anak.

Chaos Season

Drama anak ini sering tayang, di musim liburan. Waktu yang sering dipilih, untuk melakukan perjalanan sekeluarga.

Diriku jadi tertarik, mengamati reaksi para orangtua terhadap anak yang misbehaves di ruang publik.

Bayi dan balita,mungkin gak bisa dinilai  karena belum mengerti komando.

Yang suka bikin sirik itu,anak-anak umur  6+, yang sewajarnya sudah bisa diajak kordinasi.

Dari hasil larak-lirik di ruang tunggu, diriku membagi orangtua dalam tiga kelompok


Permen  sering dijadikan "sajen"pada anak yang rewel - Pic.Daria Yokovleva

Kelompok pertama 
Gawai  is the best
Ini tipikal mamah dan papah muda zaman now. Dari rumah,anak sudah di bekali gawai. Mereka jadi kehilangan minat,melakukan eksplorasi lingkungan.

Kelompok kedua 
Money talk
Biasanya dimulai dengan omelan plus  keluhan, anak yang bandel atau  minta duit terus. Akhirnya buka juga  dompet. Menyuruh anak jajan, untuk membuat mereka tenang.Yang ini model-model emak – bapak tahun 80-90an.

Kelompok ketiga 
Emang gue pikirin
Saat anak mulai melakukan hal-hal yang mengangu  keamanan, ketertiban dan kebersihan lingkungan. Orang tua EGP ini,suka pura-pura tidak tahu.

Tidak mencegah apalagi membantu, mengatasi masalah yang disebabkan anak mereka.Kadang malah balas menghardik, orang yang menegur anaknya.

Dalam musim libur,ketiga kelompok orangtua itu bisa kita temukan bersamaan dalam satu lokasi. 

Penasaran gak sih, kenapa reaksi orangtua bisa begitu berbeda terhadap aksi anak.


Kordinasi yang baik  ibu dan anak angsa.Pic Pixel 2013

Reaksi-reaksi atas tingkah anak, keliatanya untuk menutupi rasa malu.
Pandangan masyarakat, biasanya menyalahkan orangtua untuk kelakuan anak yang tidak patut.

Meskipun terlihat sok gak peduli gitu,hakul yakin dalam hati emak-bapak itu terbersit rasa malu.
Lalu mulailah muncul berbagai dalih, ah namanya juga anak-anak atau kan ada petugas kebersihan de el el. 
Semakin besar usia anak, semakin susah dikoreksi karena semua kesalahan dibenarkan orangtua

Mengutip  Judith Myers-Walls, PhD, profesor perkembangan anak dan studi keluarga University Lafayette – Indiana USA,orangtua idealnya mulai mengajarka soal prilaku pada anak itu sejak bayi. 
Memberi batasan, hal yang boleh dan tidak. Mencontohkan,prilaku baik.
Mencegah dan mengingatkan,bila anak mulai berprilaku tidak pantas. Tentu saja disesuiakan, dengan  fase perkembangan anak.

Nancy S.Buck,Ph.D,RN seorang psikolog perkembangan yang berpengalaman dalam motivasi dan prilaku anak pada laman psychology today memberi beberapa tips DO and DON’T meminimalisir drama anak di muka umum.

1.Menetapkan aturan
Beberapa hari sebelum berangkat, buatlah kesepekatan bersama.Kesepakatan  yang harus dipatuhi, semua anggota keluarga. Yang simpel-simpel saja, ini MOU untuk  mengajar anak membedakan rasa ingin tahu VS  mengangu ketertiban. Bukan tata tertib karyawan, instalasi militer.

Bagaimana menjaga, kebersihan diri dan lingkungan
Jaga bicara
Tidak menaiki atau bermain-main dengan alat-alat  kerja petugas.
Tidak mengangu pengujung dan petugas disana

Kesepakatan dapat disesuaikan dengan, sikon tempat yang akan dikujungi.Kalau liburan ke pantai, sepakati sejauh mana anak boleh berenang. Kesepakatan, bisa juga berdasarkan pengalaman liburan bersama  sebelumnya. Jangan ulangi pernak-pernik kecil yang bikin, tensi mama-papa naik tahun lalu.
pixabay
2.Rencana
Ngobrol-ngobrol dulu,tentang tempat yang akan dikunjungi. Mungkin ini pertama kali mereka, ke stasiun kereta atau bandara.Ceritakan, apa saja yang akan dilakukan setiba disana.

Merencanakan apa yang bisa, dilakukan disana. Misalnya saat papa-mama lagi ngantri check in. Mereka bisa duduk manis,sambil  membuat video pendek aktivitas bandara atau duduk manis mewarnai gambar.

Tentu saja semua aktivitas tidak mengangu, atau merusak fasilitas umum.Jangan lupa untuk mengingatkan lagi,kesepakatan dan rencana yang sudah dibuat ini dalam perjalanan menuju ke sana.


Bagaimana kalau tidak ada hal menarik yang bisa dilakukannya di sana ?

Diriku berbagi pengalaman,dulu pernah delay beberapa jam di bandara Soekarno Hatta – Jakarta. Lama menunggu, ananda mulai rewel.

Akupun mulai bosan,dengan janji palsu jam berangkat yang molor.Iseng mengajak ananda, keliling ruang tunggu. Tour ruang tunggu, berbagai maskapai.

Duduk sebentar,bersama penumpang dari  Indonesia timur. Diluar dugaan  ternyata mengamati orang baru, itu mengasikan untuk anak umur 8 tahun. logat mereka bicara, megamati ciri fisik berbagai suku bangsa Indonesia.

Ananda banyak senyam-senyum sendiri. Pertama kali bertemu langsung,dengan orang Papua yang dia bilang mirip mirip Afro.

 3.Minta pendapat anak
Selama  liburan, ada beberapa hal yang bikin  anak lepas kontrol.Bosan,lelah,lapar atau tidak tertarik dengan obyek kunjungan yang dipilih orangtua.

Jauh - jauh hari tanyakan kemana, mereka ingin menghabiskan liburan.Biarkan mereka mengemukakan alasan,mengapa ke sana.
Apa yang membuatnya tertarik ke sana.Jangan langsung memutuskan,pikirkan lagi pendapatnya.

Kalaupun nanti dirimu,punya keputusan berbeda. Kemukakan alasan, yang bisa diterima akal anak. Disertai alternatif aktivitas, yang bisa dilakukan.

Seorang teman mengeluhkan anaknya, tidak mau diajak liburan ke rumah nenek. Alasanya di sana tidak ada sinyal Smartfren.Sehingga ia tidak bisa bertukar cerita,dengan temannya yang liburan di kota lain.

Menjelaskan mempberi peringatan dan mendisiplikan anak.pic Natya geep

Pelanggaran dan Tindakan Disiplin

Suasana dan keramaian, kadang membuat anak lupa aturan main.Bawa anak menjauh, dari TKP. Beberapa anak,biasanya jadi tambah bertingkah kalau diomelin di depan orang.
Tanyakan apakah dia merasa lapar,sedikit pusing atau cuma bosan saja.

Ingatkan peraturan dan rencana, yang dibuat bersama.Alihkan perhatian,dengan mengajaknya melakukan hal lain.

Budi pekerti
Aih  kalo pake istilah budi pekerti, kok rasanya  dalemmm banget.
Tapi gitu deh,anak tidak tiba-tiba saja jadi pecicilan.

Mudah sekali mengakui kalau anak sopan dan  berprestasi, adalah jerih payah orangtua mendidik mereka.

Bagaimana kalau sebaliknya? Inilah mak,romantika jadi orangtua.

Kita masih percaya bahwa tingkah anak itu, refleksi lingkungan. Ada andil sekolah, teman sepermainan dan tentu saja keluarga dalam pembentukan karakter anak.

Zaman sekarang, banyak anak yang menghabiskan waktu lebih lama di sekolah dibanding bersama keluarga di rumah.Ibarat  mengirim baju ke loundry.

Tiba di rumah,sudah disetrika rapi. Bersih,bebas noda dan wangi.Tidak terlalu peduli, cairan kimia yang digunakan atau bagaimana proses cuci-kering dilakukan.

Jeeeng....jeeeng tau-tau anak sudah punya value sendiri. Yang mungkin beda banget, dari apa yang biasa mama-papa terapkan  di rumah.
Enzo dan Key Liburan Ke Kebun Teh .Dok donasaurus


Perjalanan liburan keluarga, saat yang tepat untuk mengevaluasi pola asuh yang sudah dan sedang berjalan. Bagian mana yang kita masih minus,apakah soal sopan satun,kebersihan,atau disiplin.
Cari inspirasi, perhatikan lingkungan.
Bagaimana reaksi orangtua lain, pada anak mereka dalam sikon tertentu.

Hoke,selamat berlibur.Punya pengalaman menarik soal drama anak-ortu selama liburan.Cerita-cerita dikomen dong***donasaurus

20 komentar:

  1. kadang terjadi hal gak terduga ya saat liburan...pingin hepi malah drama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyo bener banget,liburan bareng keluarga itu bisa sukses banget atau ancur banget.Thanks sdh mampir riawani

      Hapus
  2. Keren banget mba artikelnya. Kadang merasa situasi tidak bisa dikendalikan, padahal sebenarnya bisa diantisipasi sejak awal ya! Tfs :)

    BalasHapus
  3. Saya kalau ngajak si krucil, saya tanya dulu, apa dia mau ikut apa tidak. Soalnya dia memang happy kalau pergi ke tempat yang dia suka atau memang dia mau.
    Kalau ada drama, saya sesuaikan sesuaikan saja sikonnya.
    Misalnya minta beli sesuatu, kalau pas buat dia saya belikan. Kalau tidak dan dia ngotot, saya pura-pura tinggal hahaha.

    BalasHapus
  4. Penting ya Mbak untuk tetap menjaga peraturan di mana pun berada. Dan kesepakatan sebelum bepergian wajib sekali dibuat, agar lebih mudah mengkontrol anak. Thankz sharingnua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.jadi setidaknya dia punya gambaran apa yg akan dilakukannya

      Hapus
  5. menyenangkan banget ya kalau liburan bareng anak, anak2 pastinya happy. Namun, ya yg namanya anak2 pasti drama sebelum bahkan selama liburan ada ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya tugas orang tua meminimalisir akibat buruknya

      Hapus
  6. lagi musim liburan perlu banget nih yang kayak gini, biar liburan bisa selalu hepi

    BalasHapus
  7. Ada satu tantangan kalau ajak anak jalan. Mereka suka ga mood makan. Kalau anak udah ga mau makan, ibunya yang badmood. Kacau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak gak mau makan saat berjalan mungkin masuk anfin atau kecapean

      Hapus
  8. Tips nya seru juga yak, berguna banget untuk anak yang sedang libur panjang.

    BalasHapus
  9. Kalau saya pergi2 kemanapun selalu bawa alat tulis termasuk pensil warna dan buku cerita. Biasanya kalau kondisi agak ekstrem, misal anak bosan dan rewel gitu, saya ajak bercerita sambil menggambar. Sengaja saya buat gambar lucu dan menarik biar mereka tertawa �� ��

    BalasHapus
  10. Terimakasih mbak buat sharingnya. Saat ini saya belum punya anak, tapi someday kalau sudah ada anak sepertinya tips ini berharga banget buat saya untuk mempesiapkan segalanya sebelum liburan bersama anak. Apalagi kalau masih kecil ya/...

    BalasHapus