Kamis, 23 Mei 2019

Ramadan Di Kampung Dari Meriam Bambu Sampai Cubit-cubitan

Mengisi Ramadan Di Perpustakaan Cinta Baca Palembang

Ramadan zaman  aku kecil, adalah anual event yang paling dinanti.Sebagai anak kecil di kota kecil, gak banyak hal yang terjadi sepanjang tahun. Kemeriahan ramadan dan lebaran, menjadi sesuatu yang luar biasa. Bagaimana mengisi bulan ramadan,sudah kami rundingkan jauh – jauh hari.

Obor Bambu
Obor dan Meriam Bambu
Satu minggu menuju ramadan. Kakak saya sudah sibuk cari – cari bambu,untuk membuat obor.
Kakak dan kawan –kawan, punya tradisi keliling kampung membangunkan sahur.
Kaleng dan kentonga, digunakan sebagai  tetabuhan untuk membangnkan tidur.

Masa tahun 80an di  Sekip - Kota Bengkulu masih banyak lorong, yang tidak ada lampu jalan.  Obor diperlukan,untuk penerangan.

Meriam Bambu
Sekarang sudah jarang ditemui, adalah permainan meriam bambu. 

Membuat meriam bambu dilakukan,tanpa bantuan orang dewasa.Kalau dipikir-pikir kok anak zaman itu sudah pinter banget, membuat senjata tradisional.

Bambu dengan diameter yang cukup besar,dipotong sepanjang 3-4 ruas. Sekat antara ruas bambu, dipecah dengan  cara menumbukan kayu ke dalam bambu.Pada ujung ruas terakhir, permukaan bambu dibolongi.
Bagian yang seru (tapi berbahaya) adalah bagaimana membunyikan meriam ini.
Sadar yang kami mainkan berbahaya.Biasanya kami akan pergi ke kebun atau tempat sepi, yang agak jauh dari rumah.

Secarik kain diikat,pada sebilah bambu atau kayu. Dicelupkan kedalam minyak tanah,lalu dibakar. Dan segera diselipkan, kedalam lubang di permukaan meriam.

Tekanan panas udara panas, yang terdorong kelur dari  bambu menimbulkan dentuman.Wkkkkkk kebayang gak anak sekarang main beginian. Alhamdulilah, kami semua selamat.

Penduduk semakin ramai, bambu juga sudah susah dicari. Meriam bambu semakin jarang akhirnya terelminasi, dari tradisi ramadan anak-anak di Kota Bengkulu.

Celabur
Permainan yang mirip gobaksodor ini, amat populer dimainkan usai sholat subuh. Petak - petak dibuat diaspal jalan. Kalau tidak ada sisa cat,teman – teman biasanya sumbangan untuk membeli satu kaleng kecil cat.

Permainan  Celabur  yang mirip Gobaksodor
Zaman itu masih jarang mobil dan motor,berseliweran dipagi buta. Permainan dihentikan, saat lalu lintas jalan mulai ramai.Sekarang, mungkin gak ada lagi anak kecil di Bengkulu yang kenal permainan celabaur.

Tarawih dan Buku Tanda tangan
Tradisi minta tanda tangan imam sholat tarawih,sudah dimulai dimasa saya SD.Buku tanda tangan,sudah dikumpulkan menjelang sholat Isya.

Beberapa anak ( apa lagi yang rumahnya dekat masjid wkkk) bakalan kabur dulu. Kembali lagi ke masjid, menjelang  sholat witir.Masa kami dulu jarang sekali anak –anak,ribut di dalam masjid.

Ada beberapa orang emak, yang amat rajin mengendalikan ketertiban (semoga Allah melapangkan kuburnya dan menerima amal ibadahnya).
Tips Mengajar Anak Tarawih
Meski berada di shaf depan ibu kami ini tahu aja, kalau ada anak-anak yang main-main di belakang.
Saat jeda beliau akan patroli,dan menghadiahkan cubitan pada anak yang berisik.

Gak ada anak yang lapor dicubitin, karena tahu apa yang kami lakukan salah.Kalau gak mau dicubit, ya jangan buat ulah.

Pernak-pernik ramadan dimasa kecil, terus terbayang dan jadi cerita dimasa kini.
Perubahan cara kita bersosialisasi dan  kemajuan teknologi informasi, membuat ramadan yang  berbeda dengan yang saya alami dulu.

Semoga anak sekarang,punya kenangan yang sama asiknya dengan ramadan saya dulu. Kamu punya cerita ramadan yang unik ? bagi dong dikomen****donasaurus.com

#30HariKebaikanBPN
#bloggerperempuan
#ramadan2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir