Kamis, 04 Juli 2019

Asiknya Belajar Bersama di Museum Sultan Mahmud Badaruddin ll Palembang

Museum Sultan mahmud Badaruddin II Palembang

Ada 111 museum  provinsi dan  20  Taman Budaya, yang tersebar di seluruh Indonesia.Kesemuanya memerlukan biaya perawatan dan oprasional yang tidak sedikit.
Tiket masuk adalah  salah satu sumber dana yang diharapakan mampu, menutupi biaya oprasional museum.

Sunyi sepinya pengunjung museum ini, bahkan sudah jadi ‘masalah nasional’.
Untuk  memberi alasan masyarakat  kembali  berkunjung ke museum, Dirjen Kebudayaan ( Kemdikbud) sudah meluncurkan program, Museum  Dihatiku  dan  Belajar Bersama di Museum.

Mas Ade  kasih trik dan tips di kelas belajar bersama fotograpy

Kapan terakhir  kamu berkunjung ke salah satu museum di Indonesia?
Yang masih pelajar mungkin menjawab, dua tiga tahun lalu. Yang  sudah tamat belajar mungkin akan menjawab, seribu tahun lalu
 Pak Hilman Farid please maafkanlah mereka, yang tidak ingat lagi jalan menuju museum ( lebay gak seeeh ....)

Menjelang  Hari Museum nasional  pada 12 Oktober 2019 unit kerja (Sie)  Permuseuman dan Bangunan Bersejarah Dinas Kebudayaan Palembang, mengadakan beberapa kegiatan Belajar Bersama di Museum.
Minggu 30 Juni 2019 kemarin diriku antusias banget mengikuti,  belajar bersama fotografi di Museum Sultan Mahmud Baddarudin.

Belajar Bersama  Fotografi 
Kelas belajar bersamanya asik banget,Mas Ade Yovi dari Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (Pengda Sumsel) kasih banyak tips soal fotografi untuk pemula.
Mas Ade sabar banget menghadapi tingkah pola peserta, termasuk juga menjawab pertanyaan - pertanyaan ndeso dari saya.
Gak cuma itu peserta Belajar Bersama Di Museum langsung diajak, praktek memotret  koleksi museum dan food photoghrapy.
Pelaminan adat Palembang koleksi Museum SMB II

Nyimas Ulfah selaku Kepala Seksi (Kasi) Permuseuman dan Bangunan Bersejarah Dinas Kebudayaan (Disbud) Palembang mengatakan Kegiatan belajar Bersama di Museum Sultan mahmud badaruddin sebagai usaha untuk mengenalkan dan mendekatkan  masyarakat dengan museum – museum yang ada di Sumatra Selatan.

Yang belum sempat  ikut Belajar Bersama di Museum Sultan Mahmud Badaruddin, masih ada kesempatan buat ikutan.karena selain gratis, yang memberikan materi belajar juga orang – orang yang profesional di bidangnya masing - masing.


Lukisan Sultan mahmud badaruddin II dan Perang Palembang 

Sambil menunggu kedatangan Mas Ade kami melihat -  lihat koleksi, yang di pamerkan di Museum Sultan Mahmud Badaruddin. Ada beberapa perubahan pada  display dan pengaturan ruang pamer sejak terakhir saya berkunjung ke sini ( seribu tahun lalu).

Penataan Dan Penambahan Koleksi

Seorang teman (di Medsos)  yang punya  hobi mengunjungi museum di seluruh dunia sempat komen
‘ Waktu yang diperlukan untuk cari parkiran di Plaza Benteng Kuto Besak - beli tiket  - naik tangga ke ruang museum lebih lama dari pada  waktu yang diperlukan, untuk melihat seluruh koleksi Museum SMB ll ’
 Pernyataan yang lumayan menohok perasaan saya, sebagai wong Plembang.


Kamar pengantin ala Palembang Koleksi Museum SMB II
Pengelola museum  jangan langsung buka jurus menangkis ( yang dianggap) serangan, woles aja bro jadikan komen itu, sebagai  masukan.Mungkin itu alasan utama, kenapa museum akhirnya sunyi sepi  sendiri.

Namanya juga museum pasti yang ditampilkan adalah benda- benda jadul atau yang dianggap mewakili jaman dulu.Tapi display museum SMB II ini, agak menghawatirkan.

Koleksi yang dipamerkan  terlalu sedikit untuk ukuran  museum (utama),yang mewakili Provinsi Sumatra Selatan setelah zaman Sriwijaya.

Sejujurnya gak banyak benda - benda, yang dipamerkan di museum ini benar- benar berasal dari era yang diwakilinya ( barang antik ori).

Jadi gak masalah kalau diperbanyak display  barang baru ( barang KW ), yang dianggap bisa memberikan gambaran suasana kebatinan zaman Palembang Darussalam.
Meriam Kapal -Koleksi Museum SMB II Palembang

Keterangan dan Pemanduan

Saya kurang begitu paham bagaimana SOP pemanduan di museum Indonesia. Karena kalau di Museum SMB ll,kita harus bayar fee terpisah untuk jasa pemandu.

Emang sih katanya sukarela tapi justru kata sukarela itu yang bikin pengunjung malas , mengunakan jasa pemandu. Lebih baik kalau dituliskan dengan jelas saja tarif kepemanduan itu di meja ticketing.
Pengunjung yang tidak mengunakan pemandu, akhirnya keliling sendiri dan keluar sambil ngedumel. 

Keterangan pada display  amat  singkat  dengan ukuran  huruf lumayan  kecil. Beberapa keterangan dipasang di dinding belakang display.Sulit dibaca dari batas   garis pandang,
yang dibuat  pengelola museum.

Cek Ulfah dan team memang harus kerja keras untuk mengembalikan marwah museum  yang ada di Kota Palembang  sebagai sumber refrensi utama,  sejarah  dan kebudayaan  bagi masyarakat kota Palembang.
Eksisi di beranda Museum SMB II Palembang
Sekarang saingan museum konvensional  adalah  kemajun teknologi bernama internet.
Apa saja dari zaman kapan saja, bisa kita telusuri dalam sekali klik.
Museum - museum di daerah walau dengan segala keterbatasan,dituntut  untuk bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman.Ngadain event  untuk menarik minat berkunjung itu sudah bagus, tapi  revitalisasi dan inovasi  harus terus berjalan.
**** donasaurus

28 komentar:

  1. Wah, seru sekali dapat belajar banyak di museum. Btw, pas ke Palembang aku berkunjung ke museum ini, tapi sedang ditutup karena lagi direnovasi.

    Next, kalau ke Palembang kudu sempetin buat mampir ke museum ini.

    Aku setuju, setiap museum harus mampu berinovasi di tengah gempuran digital. Kalau bisa memanfaatkan digital...

    BalasHapus
    Balasan
    1. siiip,semoga nanti display museum SMB sudah lebih baik

      Hapus
  2. Pengen banget belajar photography, pasti asyik dan seru apalagi kalo udah liat hasil fhoto nya yg keren-keren itu. Padahal saya sempet tiggal di Palembang loh... Tahun 2000 (msh zaman SMA) cma satu tahun seh... Truz 2015-2018 tinggal di palembabg lagi sama suami, tapi belum pernah masuk ke museum SMB II (parah ya...) Padahal termasuk sering ngajak anak² maen ke BKB😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. tuh kan padahal tinggal selangkah lagi menuju museum SMB tapi belum dapet pangilan buat masuk 🤣🤣🤣🤣

      Hapus
  3. Saya sampai saat ini masih mupeng ke Palembang, Mbak Dona. Soalnya banyak tempat menarik di sana, termasuk museum.

    Dan memang, harus ada peran kuat pemerintah untuk terus menarik agat orang datang ke museum ya. Soalnya museum itu tidak ada tempat wisata, tapi juga banyak edukasi.

    BalasHapus
  4. hayo mampir bloger Palembang akan setia mendampingi

    BalasHapus
  5. Lukisan-lukisan dan meriam kapalnya bagus mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup.Lukisanya produk baru meriamnya antik ori.Ayo main ke Palembang biar bisa lihat langsung

      Hapus
  6. Sebenarnya isi museum tuh bagus bagus ya. Keren dan jadi bisa tahu gimana kultur dan sejarah Indonesia aslinya. Sekarang tinggal PR nya gimana bikin museum jadi lebih terkenal dan di kemas lebih oke untuk anak muda. Biar mereka lebih tertarik untuk mampir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Yang suka ngesilin itu pemandu yang tidak punya pengetahuan 5w 1h mengenai obyek museum

      Hapus
  7. Seru Mbak ke museum bisa sambil belajar photography. Ada segitu banyak museum, saya belum pernah mengunjungi satu pun. Malu euy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh em ji ini perlu penanganan khusus dari dirjen kebudayaan

      Hapus
  8. Seru ya mbak ke museum bisa belajar sambil berfoto2 ,, tapi sayang meseum banyak orang2 yg males mengujunginya ,semoga ada peran pemerintah mempromosikan lebih kencar lagi untuk museum

    BalasHapus
    Balasan
    1. pengunjung males karena isinya itu juga itu lagi 😁😁😁

      Hapus
  9. Aku wong palembang bae belum pernah ke sini hehe

    BalasHapus
  10. Hmmm terakhir awal tahun lalu kyknya ke museum hehe :P
    jadi keinget mau bawa anak2 ke museum di Bogor.
    Wah Palembang pun museumnya kyknya bagus2 ya mbak :D
    Nah betul banget kesel kalau ada kata "sukarela" ya mbak, dikit dicaci, kebayakan gmn gtu haha.
    Kalau aku ke Palembang Mbak Dona jd guidku donk hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu waktu masih kerja di tour abd travel saya suka memandu juga.

      Hapus
  11. Jalan2 juga sambil dapat ilmu, pasti seru banget nih, apalagi di museum banyak objek untuk fotography

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya walaupun dengan segala keterbatasan nya

      Hapus
  12. owalaaah, ternyata terpisah ya fee pemandu sama HTM-nya.
    Tapi sebenarnya asyik kalau memang ada pemandunya seperti ini, jadi kita yang berkunjung tidak cuma refreshing doang tetapi juga bisa mendapatkan informasi yang valid dari sumbernya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo menurutku seharusnya memang ada ASN museum yang bertugas sebagai pemandu jadi gak ada kewajiban mesti bayar lagi

      Hapus
  13. Kalau di palembang aku baru ke museum balaputera dewa itu pun waktu sd karyawisata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ca cam itu seratus tiga puluh tujuh tahin lalu.Nanti lebaran haji keliling 3 museum Palembang

      Hapus
  14. Belajar bersama di museum itu seru banget. Apalagi ada materi fotografi juga.

    Museum memang harus berkembang supaya bisa jadi pilihan tempat wisata para milenial*

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget,semoga kedepan ada program yg berkesinambungan

      Hapus
  15. Benar adanya bahwa pihak museum sepi dari hari ke hari. Saran saya museum bisa rutin mengadakan acara untuk menarik minat pengunjung, bagikan Flyer pda saat car free day. Dan juga mengenai koleksi, buat saya pribadi setuju dengan author untuk memanjang bends kw sebagai gambaran yg lebih luas dan menarik ketimbang memajang barang asli namun sedikit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener dlsekali Ummi.thanks sudah mampir

      Hapus