Senin, 16 September 2019

Gadget Vs Anak



kelas Literasi Digital Sister net dan Blogger Crony Community Palembang

Kenal  dong sama  selebgram cilik , yang bernama  Gempi. Anaknya Gading dan Gisel.Tingkah lucunya di media sosial,ditonton ribuan orang setiap hari. Sekarang Gempita Noura Marten lebih ngetop, dari  Mama dan Papanya.

Belum lama  Gempi dikabarkan, mengalami ganguan mata. Gadis kecil  kelahiran 16 Januari 2015 ini, dinyatakan  minus dan sillindris.
Mama Gisel dan Papa Gading buka suara, katanya Gempi  terlalu  dekat menonton dan main gadget.
Gisel dan Gempi saat pemeriksaan mata

U la la diusia yang sebegitu muda Gempi sudah merasakan, dampak langsung dari  hobynya  bermain gadget.

Akutuh  punya  feeling  tahun – tahun kedepan, kasus- kasus begini   bakalan   sering terdengar. Enggak cuma soal ganguan mata tapi juga ganguan fisik dan mental ,disebabkan anak yang terlalu akrab dengan gadget.

Sekarang gadget adalah benda yang paling sering, dijadikan reward orangtua pada anaknya.

Diawali serbuan gadget – gadget murah meriah, diikuti munculnya aplikasi game on line dan media sosial. Sejak itu gadget  seperti  jadi kebutuhan pokok ke - 10.


Mbak Wawa Fajri dan nara sumber Tsurayya Syarif Zain, S.Pd.I., S.Psi., M.A 
Wardah Fajri-Owner Digital Kreativ Hub & Pendiri Bloggercrony Community bilang hidup diera digital begini rasanya gak mungkin deh, melarang anak  punya gadget.

Yang masih mungkin dan harus bisa kita lakukan, adalah meminimalisir  dampak  negatif gadget.

Sebagai ‘guru’ pertama anak peran Ibu sangat vital dan fatal bagi perkembangan fisik dan mental anak. Karena itu perempuan perlu dilengkapi, dengan informasi yang mendukung peran mereka sebagai Ibu.

Senada dengan Mbak Wawa,  Astri Mertiana - Sisternet Partnership Management XL Axiata,menyatakan Sisternet sejak berdiri tahun 2015 sudah berkomitmen untuk menyediakan ruang belajar bagi perempuan.

Astri Mertiana  asik berdiskusi dengan sister -sister blogger Palembang

Kelas literasi digital online dan offline yang diinisiasi Sisternet, diharapkan membuka wawasan perempuan agar siap mendidik  generasi net.

Ngomong – ngomong soal kelas literasi digital, Sisternet dan Blogger Crony Community ngadain Kelas Literasi Digital Parenting  khusus untuk sister – sister di Kota Palembang.

Event digelar Sabtu ( 14/09) di Logo House Fashion Food and Bar – JL. Talang Semut  Palembang.
Logo House Fashion Food and Bar – JL. Talang Semut  Palembang.

Tema kelas  asik banget, yaitu Kapan Anak Boleh Punya Gadget  Sendiri.
Sister – sister yang datang dengan dress code biru dan pink antusias banget,ngikutin event ini.

Gak cuma kita, ternyata Ferdinan Oktavian - Head of Sales XL Axiata  Greater Palembang juga excited banget hadir dievent ini. Sebagai orangtua ia merasa bertanggung  jawab, untuk memastikan gadget memberikan manfaat positif  bagi anaknya.
Peserta Literasi Digital Parenting di Palembang

Beberapa sister bahkan datang jauh – jauh dari Pulau Bangka,untuk mendapat tips dan trik dari narasumber kita Mbak Aya - Tsurayya Syarif Zain, S.Pd.I., S.Psi., M.A - Dosen, Konselor, Praktisi Pendidikan & Parenting.

Mbak Aya membuka kelas, dengan  menjelaskan karakteristik  Generasi  Net. Ada perbedaan karakteristik anak – anak generasi net, dengan generasi sebelumnya.

karakteristik generasi net pic pixabay
  • Cendrung Praktis / Speed
  • Love of freedom
  • Ambisius
  • Suka hal detail
  • Social Media
  • Percaya Diri
  • Recognition
Interaksi dengan gadget  mempengaruhi,  cara belajar dan mengajar anak zaman now. Teknologi  terbukti mampu memicu kreativitas   Generasi  Net. Bermunculan  milayder – milyader muda, yang berinovasi dengan teknologi digital.

Pengarug positif Gadget  docpic Pixabay
  • Media pembelajaran yang efektiv
  • Kesempatan berhubungan dengan komunitas positif
  • Pengayaan Kompetensi dan Kreativitas
Seperti dua sisi mata uang, gadget  juga punya sisi yang harus diwaspadai.
Menurut Mbak Aya selain ganguan mata  beberapa “ganguan lain” juga membayangi  anak yang kecanduan gadget .

  • Perkembangan motorik
Sebel memabaca tulisan anak, yang lebih mirip cakaran ayam ?
Coba deh diinget – inget, kapan pertama kali  ananda dipegangin gadget.
Balita yang  terbiasa memegang  gadget,akan mengalami hambatan dalam perkembangan motorik.

Gadget dengan layar sentuh, tidak memberikan rangsangan pada motork anak.
Tidak terlatih untuk memegang, mencengkram menumpukan tekanan atau mengkordinasikan jari untuk bergerak bersama.
  • Perkembangan kognitif
Perkembang kognitif adalah roses berfikir. Kemampuan individu  untuk menghubungkan, menilai dan atau mempertimbangkan suatu kejadian.
Kecerdasan kognitif berhubungan dengan kecerdasan,yang umumnya didapat dari pengalaman sehari – hari.
Karena sibuk dengan gadget,anak malas untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar.
Ringkasnya anak- anak yang udah terpaku pada gadget, jadi tidak waspada terhadap lingkungan.
  • Perkembangan  Bahasa
Pemberian gadget pada anak dibawah usia 5 tahun, akan mengurangi rangsangan pada interaksi sosial. Berdampak pada  terhambatnya kemampuan  berbicara dan kurangnnya perbendaharaan kata.

For your information  Sisternet,  adalah  program CSR pemberdayaan perempuan dari XL Axiata. Modul pintar yang bermanfaat bisa di unduh di sisternet.co.id
  • Perkembangan Sosio Emosional
Sosio emosional adalah kemampuan  untuk berinteraksi dengan lingkungan dan bagaimana  menyikapi hal yang terjadi di sekitarnya.
Bermain gadget seperti melakukan komunikasi satu arah. Karena itu gadget menghambat perkembangan kecerdasan sosial dan emosional pada anak.
Kecerdasan sosial dan emosional penting untuk menimbulkan rasa empati, berbagi dan mampu mengendalikan diri dan emosi negatif.
  • Kurangnya Minat  Baca 
Gadget yang menyediakan gambar  warna dan dilengkapi suara pastilah lebih menarik dari buku yang  cuma berisi barisan huruf.
Semakin dini anak mengenal gadget, semakin kurang minatnya membaca buku konvensional.
  • Bingung Menentukan Identitas Diri Dan Orientasi  Seksual
Akses  pada tanyangan  yang  terkontaminasi  LGBT,akan mempengaruhi cara mereka mengidentifikasi  diri.
Terbiasa menyaksikan tayangan alay, membuat anak semakin permisif.
  • Resiko Cyber Bullying
Pernah dong baca berita anak dan remaja, yang bunuh diri  gegara gak kuat di bully.
Cyber Bulling  biasa  terjadi  pada anak yang amat aktif  tampil di media sosial.
Beberapa anak menanggapi secara serius, komentar – komentar yang mampir diposting mereka.
  • Sexthing
Sister M menceritakan hal,yang bikin hadirin terperangah. Beberapa hari yang lalu ia menemukan surat, dengan konten sexsthing di dalam tas sekolah anaknya.

Pernah dapet pesan  yang menjurus ke arah  aktivitas sex  atau kiriman foto/video  setengah  telanjang atau bugil beneran?  Itulah Sis yang dinamakan sexthing

Mulanya membuat atau menyebarkan, konten sexthing  buat lucu-lucuan aja. Semua jadi serius kalau kemudian, ada yang merasa dirugikan. Lebih parah lagi mereka akhirnya, kecanduan konten porno.
  • Terpapar Pornografi
Sama seperti  sexthing, konten porno grafi sekarang sudah semakin kreatif saja.
Konten  pornografi bisa tiba – tiba  muncul, sebagai iklan saat  buka situs  market place sempak dan BH.
Semakin sering dilihat, semakin  panasaran dan  akhirnya jadi ingin mencoba.
  • Rentan  Depresi
Puja – puji didunia maya bisa jadi candu. Beberapa selebgram mengaku depresi, saat  follower atau  Engagement  Rate mereka turun. Itu kalau sudah bener- bener jadi selebgram.
Sementara  bagi yang bermimpi jadi selebgram, realita  yang berbeda dengan  pencitraan diri mereka di media sosial bisa bikin stress berat.
  •  Membahayakan Zona Privasi
Anak – anak dan remaja belum  sepenuhnya  ngerti, apa yang wajar diketahui orang dan apa yang tidak.
Keluguan mereka dimanfaatkan untuk mendapat informasi, yang ternyata menjadi bumerang dikemudian hari.

Kelas literasi digital bersama Sister Net dan Blogger Crony Community  semakin seru disesi  tanya jawab. Sister – sister  bergantian mengemukakan masalah, yang mereka hadapi.

Mbak Aya menutup kelas, dengan meminta orang tua siap dengan konsekuensi yang harus dihadapi saat memberi gadget pada anak.

Ada beberapa point yang harus diperhatikan sebelum meminjamkan atau membelikan anak gadget.
Naura dan Mama yang semangat sekali mengikuti kelas digital parenting
  • Selalu Mengupgrade Diri
Orang tua wajib tahu dan mempelajari apa saja, yang sedang trending atau populer dikalangan anak dan remaja.
  • Menjadi Sosok Leader Bagi Anak
Memimpin anak menuju era digital dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
  • Selalu Mawas Diri
No body perfect, kita sebagai orang tua juga gak sempurna. Introspeksi, sadarikesalahan dan segera cari jalan keluar dari masalah tersebut.
  • Sebagai Role Model
Jangan cuma membuat peraturan, tapi berikan contoh apa dan bagaimana bijak mengunakan  gadget pada anak.


Pemberian  gadget  pada anak menuntut tanggung jawab pengawasan dari orang tua
  • Parenting yang efektif  membangun mentalitas dan karakter
Keluarga itu seperti team  sepak bola. Ada serangkaian trial and error, sebelum jadi team yang solid.
Temukan metode yang paling efektif untuk menggatasi persoalan anak VS  gadget dalam keluarga.

Haduh gak terasa waktu berlalu begitu cepat, masih banyak sister yang ingin bertanya. Semoga kelas literasi digital  bersama Sisternet dan Blogger Crony Community  bisa mampir lagi ke Palembang.

Masih banyak yang mau diobrolin bareng Mbak Aya, Mbak Wawa dan Mbak Astri tentang peran perempuan dalam mendidik generasi net.


Peserta kelas digital Palembang yang super antusias
Aku sharing sedikit pengalaman, memberikan gadget pada ananda.Ada beberapa point yang harus diperhatikan sebelum meminjamkan atau membelikan anak gadget.

Kebutuhan
Sesuaikan gadget dengan kebutuhan anak saat itu. Bila hanya diperlukan sebagai alat komunikasi, maka berikan gadget standar saja.

Waktu masuk SMP ananda dibelikan HP Nokia standar, yang cuma bisa sms dan telepon.
Karena kebutuhanya saat itu adalag gadget, sebagai alat komunikasi antar jemput sekolah.

Sanksi
Penting sekali untuk membuat kesepakatan do and don’t sebelum serah terima gadget.
Aku punya  cerita, tentang  sanksi – sanksian ini.

Waktu ananda  naik kelas empat SD, karena nilainya bagus sebagai reward  kami membelikanya  PS 2. 

Kesepakatan yang kami buat adalah :
1. Main PS setelah pulang sekolah, maximal  2 jam saja.
2. Tidak boleh main PS kalau nilai pelajaran hari itu kurang dari 7.

Karena sudah disepakati sejak awal, alhamdulilah tidak ada drama.
Kalau tidak bisa main PS, ananda mengisi sorenya dengan main  atau bersepeda keliling komplek bareng teman – temanya.

Pengawasan
Periksa gadget dan media sosial anak secara berkala. Pastikan semua applikasi yang ada disana masih relefan dengan usia dan pendidikan.



Kemarin aku menang banyak yak. Terpilih sebagai peserta yang datang paling pagi dapet tumbler, menang posting instagram dapet  kartu perdana dan voucer 100k dari XL

Menghindari Kecanduan  Gadget


Selain pengawasan,pembatasan waktu juga penting. Ajak anak melakukan aktivitas, yang lebih menarik dari sekedar memencet gadget.


Tak harus mahal atau pergi  jauh, cukup kegiatan sederhana di dalam rumah  atau halaman.Tentu saja dengan satu syarat, tinggalkan gadget dulu.


Anak - anak ini diasuh gadget, saat  Ibu mereka sibuk menjaga kantin 

Sekedar contoh aku pernah mengajak ananda ( 4), melihat rumput putri malu di  halaman tetangga. 
Saat pertama kali menyentuh daun putri malu, ekspresinya kaget dan girang banget. 

Pengalaman dan pengetahuan baru, ada tumbuhan yang bisa kuncup kalau disentuh.
Ada ribuan hal sederhana,yang kita anggap biasa banget. Ternyata bisa memberikan pengalaman yang lebih asik dari bermain gadget.

Belajar menjadi orang tua itu, tiada habisnya. Ada tantangan di setiap tahap perkembangan anak. Perlu kerelaan meluangkan waktu, untuk memberikan contoh baik pada anak saat mengunakan gadget.


Karena itu kita harus selalu up grade kemampuan sebagai orang tua.
Ada yang ingin berbagi pengalaman tentang anak vs gadget?  
Donasaurus-Palembang


Gawai sudah multi fungsi, sebagai teman dan baby sitter 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Broken Link Lagi Tinggi Aku Moderasi Dulu Yak