-->

Rabu, 21 April 2021

Belajar Transgender Parenting dari Reggy Lawalata

donasaurus
Dulu, seorang reporter infotaimen, meminta pendapat Reggy  Lawalata tentang Oscar yang berpenampilan berbeda.

Dengan  tegas  (dan agak keras )  menyatakan, dia  tidak ……sama sekali tidak menyesali ….. anak lelakinya, Oscar Lawalata  tumbuh menjadi  begitu feminim.

Dan.......dipenghujung  2020, media ramai memberitakan, Oscar  Lawalata memperkenalkan   nama  barunya - Asha Smara Darra.

Tidak ada  konfirmasi, tentang ganti kelamin. Hanya secara tersirat Mama Reggy mengkonfirmasi,  Oscar  telah menjadi  perempuan.

Keberanian  Reggy  dan Oscar, untuk bercerita di  kanal The Lawalatas – Untold Story (upload-  Agustus 2000), patut diacungi  jempol. 

Kamu yang pro, atau kontra,  atau  aku yang  enggak  tahu,mesti bilang apa soal LGBT. Kita belajar bersama, tentang  transgender, dari  pengalaman  mereka.

Sebab peingkaran atas  eksistensi mereka di kemudian hari, akan jadi masalah personal dan sosial, bagi seluruh masyarakat.

Transgender Karena Faktor Biologis

Salut, beneran   salut  sama Mama Reggy. Dengan segala keterbatasan, perempuan ini selalu  all out  mendukung   anak. 

Kita belajar dari Mama Reggy,  bagaimana bersikap  bodo amat ama omongan  orang. Energinya fokus pada, bagaimana membesarkan anak transgender,  yang bahagia dan sukses.

Difinisi  transgender  :Transgender merujuk pada orang-orang, yang identitas gendernya berbeda, dengan alat kelamin, yang mereka dapatkan saat lahir. Identitas gender, adalah perasaan internal dan pribadi seseorang, tentang menjadi pria atau wanita. Hal ini meliputi perilaku, ekspresi,dan segala hal yang menyangkut identitas seseorang.

Mendengar  cerita perjuangan  keluarga Lawalata, aku jadi tertarik untuk tahu lebih banyak, tentang  transgender. Mencari jawaban kenapa  kita, sering gagal paham tentang mereka.

Setelah  brozing sana - sini, aku ngumpulin banyak info menarik, seputar parenting transgender. Salah satunya berjudul Tips for Parent of  LGBT  Youth. Ditulis  Dr. Renata Arrington  dan Dr. Errol Field , di laman  hopkinsmedicine.org. Karena lumayan panjang, aku bagi menjadi dua artikel.

Menurut  dr Renata dan dr.Errol, sangat jarang ( hampir mustahil), anak pra remaja  dan remaja mengakui, kalau mereka merasa berbeda.

Seperti pengalaman  Reggy, yang  galau melihat Oscar terlihat  beda. Anak sulung itu, lebih kemayu, dari  adiknya - Mario.  Dalam kegalauannya Reggy,  sempat melakukan berbagai cara,untuk  ‘meluruskan’ Oscar.

Bertahun – tahun  mengingkari dan mencoba, mengubah Oscar  jadi lelaki sejati. Semua zhonk, Oscar  tidak  berubah sedikitpun.

Dalam kesal dan kecewa, Reggy  sempat marah besar . Perang dingin, yang berujung  tangis – tangisan. Reggy  tak kuasa menahan air mata, waktu  Oscar bertanya, Mama kenapa  aku berbeda?  

Pertanyaan  yang tidak mudah dijawab, oleh orangtua manapun.

Ada banyak teori mengenai, bagaimana  terjadinya transgender. Kali ini  kita ngobrolin  transgender, karena  faktor  biologis. Biar jelas , aku  kutip sedikit  artikel  dari laman Halodoc.com, soal  kromsom Y dan X.   

Lelaki normal hanya memiliki  satu kromosom  X  dan satu  kromsom Y. Nah  pada kasus  transgender, mereka  terlahir  sebagai  lelaki, tapi memiliki  dua kromsom X.

Kondisi  genetik menyebabkan seseorang secara  jasmani  lelaki, tetapi secara rohani  ia merasa  dirinya perempuan.  Analogi yang sering digunakan, adalah mereka   perempuan yang  terjebak dalam tubuh laki – laki.

donasaurus.com
Pemeriksaan kromsome dapat dilakukan, untuk memastikan gejala yang terlihat

Menyadari Anak Lelaki Yang Feminim

Orang tua dan keluarga  sering,  jadi yang  paling akhir ‘sadar’,  bahwa  ada bibit transgender,  dalam lingkaran mereka.

Bisa jadi , lantaran  tinggal serumah, membuat keluarga  kurang  peka. Baru ribut,setelah ada  kejadian, yang  bikin heboh.

Sebagai  awam,  kita  tidak punya pengetahuan, untuk  memahami pertanda awal, bahwa mereka  berbeda. Pengalaman Reggy  yang masih  belum sadar, bahkan setelah mendapat  kode keras dari Oscar.

Seperti  Oscar Lawalata, yang  mempertanyakan jati dirinya.  Waktu kecil mereka,  yang  kelebihan  kromsom X , juga belum  tahu  apa, yang terjadi pada dirinya.

Aku  masih ingat  3 kawan lelaki , yang  terlihat kemayu  sejak sekolah dasar. Yup,mereka terlihat lebih nyaman bermain, bersama  kawan perempuan.

Gesture dan  tutur katanya, cewek banget. Parahnya, mereka  sudah  bergelar  bencong, sebelum hatam SD.

  • Dengarkan  Cerita Mereka

Sama seperti tips parenting lainya, komunikasi menjadi kunci. Orangtua disarankan, untuk membagun komunikasi, yang sehat dengan anak sejak kecil.

Dimulai dengan pertanyaan sederhana, misal :

Tadi main apa?

Tadi main sama siapa?

Di sekolah tadi belajar apa?

Di sekolah  lagi musim mainan apa?

Aktif bertanya, tapi jadilah pendengar yang baik. Dengarkan dengan seksama, jawaban mereka. Karena bisa jadi petunjuk, ke arah yang luar biasa.

  • Memahami Situasi dan Kondisi Real Time

Ada Ayah yang emosi,liat ucok  main boneka. Ada juga Mamak yang jadi galau, ngeliat Buyung lebih seneng main,sama anak perempuan.

Wait, kalau ada tanda – tanda yang tidak biasa,jangan buru – buru panik. Perhatikan sebenarnya, apa yang sudah terjadi. 

donasaurus.com

Bisa saja,setelah diperhatikan,sama sekali enggak ada hubunganya, dengan soal transgender.

Boneka adalah satu – satunya mainan, yang Ucok punya. Coba kalau ada mobil atau robot – robotan, dia akan meninggalkan bonekanya.

Haduh,ternyata  temen-temen Buyung, yang lelaki pada nakal dan sering memukul.Pantesan,Buyung enggak suka, main sama mereka.

Jikalau itu dan ini sudah dicoba,tapi prilaku mereka semakin berbeda gimana dong?

Dokter Renata mengerti,banyak orangtua yang salahpaham, tentang transgender dan orientasi seksual.Setelah menyadari,kemungkinan ada transgender dalam keluarga. Baiknya ayah dan ibu, melakukan konsolidasi.

Dari pengalamanya memberikan konseling bagi orang tua, dan anak transgender,dr Renata membuat panduan. 

Memulai Transgender Parenting

  • Terima kenyataan,ini bukan sementara. Mereka akan selalu jadi berbeda, sepanjang hidupnya.
  • Transgender(karena faktor biologis) bukan penyakit. Karena sudah dari’sononya’tidak ada,yang perlu diobati.
  • Stop,mencari – cari siapa yang salah.Terimalah mereka,apa adanya.

Hei masih banyak tips, yang penting untuk orangtua transgeder.Seperti bagaimana mencegah dan menghadapi, perundungan pada  remaja transgender. Kita lanjutin obrolan di bagian ke dua artikel ini ***donasaurus.com

Tags :

bm
Created by: donasaurus

Feel free for asking a qustions or add informations that I have been mis

18 Comments:

  1. Baca ini jadi ingat pernah wawancara Oscar Lawalatta di butiknya. Rancangannya keren bagus dan modelnya gak berlebihan. Orangnya juga baik, sukses terus untuk dia ya mba

    BalasHapus
  2. Mak mano kalo transgendernyo tobat balik ke wujud asli dio sebagai manusio? Atau transgender yang tidak mau mengubah wujudnya? Bgmn sains melihat fenomena ini?

    BalasHapus
  3. Dulu sempet aku bingung kenapa mereka, yg lelaki tapi kemayu ini bisa seperti itu. Apa Krn pergaulan, ato salah dari lahir.

    Sampe kemudian ada temen kantorku yg 'banci', dan pada akhirnya dia mengaku kalo menyukai sesama jenis. Tp ortunya udh pasti menentang. Aku pernah Ama suami diajak dia nginep di rumahnya pas ada nikahan temen di Garut.

    Nyampe di rumahnya, mama dia lgs meluk aku, Krn dipikir aku pacar nya dia. Saking senengnya anak lelaki mereka bawa cewe. Tp pas suamiku masuk, dan sadar kalo mereka salah, lgs agak kecewa. Aku sampe ditarik supaya bantuin cariin jodoh buat temenku itu, yg aku cuma iyain demi sopan santun.

    Tp pas di rumah dia, aku jd sadar kalo karakter itu memang bawaan lahir. Aku liat ada banyak foto temenku dari sejak kecil Ampe gede. Ada foto di mana dia berpose Ama semua sepupu cowonya. Pas usianya 3 thn. Di situ, semua sepupunya bergaya sambil pegang pedang, perisai, robot ato apalah yg berbau mainan cowo, si temenku ini berpose layaknya model sedang lenggak lenggok di catwalk :D.

    Dan di situ aku sadar, temenku ini memang beda secara biologis.

    Pertanyaannya, dari sisi agama gimana :(?. Ini bukan kesalahan mereka toh. Aku sendiri, walopun ga mensupport LGBT, tapi ga pernah sekalipun aku ngejauhin temen begini. Krn biar gimana justru mereka itu loyal biasanya :) , dan paling asik utk dijadikan teman.

    BalasHapus
  4. Ini peer banget suh ya buat ortu. Karna kalau dr ortu gak menangani dengan tepat, kasian anaknya juga, pasti dibully di diluar sana, dan di rumah juga seolah "tidak diterima".

    Soal LGBT aku netral sih, karna di mata aku, asal orangnya baik sama aku, ya no problem. Bukan tempatku untuk menilai sesama manusia sih.

    BalasHapus
  5. Salut banget udah mau angkat isu LGBT ke dalam blog parenting seperti ini. Emang masih banyak banget sih yang menolak keberadaan mereka. Terutama di Indonesia.

    Namun dengan edukasi secara pelan2, semoga masyarakat akan memahami keberadaan mereka. Mereka (jadi begitu) juga bukan karena dibuat2 atau krn lingkungan tertentu. Namun memang ada yang seperti itu dari lahir.

    Salah satunya ya Oscar ini. Salut buat Mama Reggy yang sabar mendidiknya hingga menjadi anak yang seutuhnya bisa membahagiakan keluarga.

    Di tangan orangtua yang tepat, anak-anak apapun pasti akan tumbuh hebat.

    BalasHapus
  6. Biasanya tabu bahas begini. Aku lumayan mindblowing baca ini loh. Memang nggak mudah menghadapinya, apalagi sebagai orang tuanya.

    Tapi memang nggak semua berkaitan dengan kromosom ya. Ada juga yang berkaitan sama faktor lingkungan. Nggak akan ada habisnya memang bahas ini terkait pro kontra nya.

    BalasHapus
  7. memang menerima perbedaan itu sulit. sebelum memahami, ada baiknya dulu dicerna tanpa dihakimi. terima kasih sharingnya ^^

    BalasHapus
  8. Saya punya beberapa temen yang gay, ada yang transgender
    So far, saya menerima mereka apa adanya. Kadang "pemilihan" ini terjadi bukan karena mereka yang memilih... ada banyak faktor X

    Kalo dari segi agama,
    kasian banget emang karena perjuangan mereka tentu akan lebih keras dan dahsyat. Tapi saya tekankan, Tuhan itu adil, biasanya mereka diberikan kelebihan dari segi lain, terutama materi

    BalasHapus
  9. Tulisannya bergizi banget, Mbak. Tapi memang pembahasan seperti ini masih sangat tabu bagi masyarakat Indonesia ya.

    BalasHapus
  10. Pasti sulit bagi seorang ibu menerima jati diri seorang anak. Yang ada hanya menerima. Dan tidak banyak orang tua yang mengerti kondisi tersebut bersifat ilmiah. Masing-masing kita membawa dua kromosom, namun akan cenderung kesalahsatunya saja.

    Jika yang wajar, perempuan yang sedikit memiliki kromoson laki-laki mungkin menjadi tomboy, dan kalau laki-laki menjadi lemah lembut. Bagaimanapun jga orang-orang yang mengalami hal diatas harus tetap didampingi.

    BalasHapus
  11. Mbak tulisannya keren banget. Membuka mata soal transgender, ternyata masalahnya memang nggak sederhana ya, Mbak. Dan orang terdekat terutama orangtua memang harus mengkomunikasikannya dan bukannya menyangkal.

    BalasHapus
  12. Saya salut sama ibunya yang bisa menerima anaknya dalam keadaan apapun. Pastinya tidak mudah. Apalagi stigma lingkungan yang juga masih negatif terhadap hal seperti ini.

    BalasHapus
  13. Pas dengar kabar itu aku kaget sih Mba awalnya, tapi udah sering liat dia wara wiri agak cantik gitu dan akhirnya dia memutuskan untuk memilih. Aku gak bisa komen apa-apa sih, hidup itu pilihan, dan kalau sudah memlih tahu resikonya. Selalu mendukung karyanya tetep.

    BalasHapus
  14. Terkadang aku sendiri mungkin ga kuat ya melihat anak yg sperti ini, namun sebagai orangtua hanya bisa bersikap terus belajar memahami anak sedari kecil dan menanamkan nilai agama yg terpenting agar kejadian seperti ini tidak terjadi.

    BalasHapus
  15. Transgender adalah sebuah perihal yang jadi problem pro kontra. Terlebih di negara kita. Kalau menurut ssya pribadi, jika seseorang mengalami gangguan biologis transgender sebaiknya cepat sgera tangani. Karena orang tersebut telah menyalahi kodratnya sebagai makhluk yang diciptakan tuhan.

    BalasHapus
  16. berbesar hati dalam penerimaan ini tuh gila sih, pasti nggak main-main. salut.

    BalasHapus
  17. Gak banyak sosok orang tua seperti Reggy Lawalata ini di Indonesia. Di mana ia terbuka menerima keadaan dari anaknya yang seorang transgender.

    Tentu keadaan ini juga pastinya ga mudah diterima oleh dirinya. Tapi dengan kebesaran hati seorang ibu dan kasih sayangnya membuat beban si anak jadi terbantu karena diterima apa adanya di keluarga.

    Salut sih.

    Makasih informasinya ka Dona. Mengingatkan kita untuk selalu menghargai meski berbeda pandangan tentang LGBT. Karena keadaan itu juga bukan mereka yang mau.

    BalasHapus
  18. Teredukasi sekali dgn artikel ini. Aktif bertanya ke anak tetap juga aktif mendengarkan akan membuat kedekatan emosional org tua ke anak. Sehingga dpt diketahui hal2 tentang anak yg org tua gak ketahui sebelumnya. Terima kasih informasinya mbak

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir.Comment will moderation before publish

Connect